Apa Itu Toxic Relationship? dan Bagaimana Cara Mengatasinya?

Mungkin kamu pernah mendengar isu-isu yang hangat diperbincangkan oleh sebagian masyarakat isu terkait toxic relationship. Istilah tersebut juga telah banyak dipergunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk melabeli suatu kondisi atau hubungan tertentu yang tidak sehat.

Sebagai contoh, jika seorang pelajar menjalin hubungan asmara yang menyebabkan pelajar tersebut mengalami berbagai perubahan dalam kehidupan sehari-hari maupun akademis, seperti penurunan nilai, perubahan relasi dengan keluarga dan teman dekat hingga melakukan beberapa perilaku yang bertentangan dengan dirinya sendiri dikarenakan hubungan asmara yang ia jalani. Dengan beberapa kondisi yang terjadi pada pelajar tersebut, sebagian masyarakat akan mengategorikannya ke dalam toxic relationship.

Apakah sudah tepat mengkategorikan sebuah hubungan sebagai sebuah hubungan toxic hanya berdasarkan karakteristik seperti contoh diatas? Lalu bagaimana individu yang terlanjur masuk atau mengalami toxic relationship, bagaimana cara menyelamatkan diri dan keluar dari kondisi tersebut?

Dalam aertikel kali ini saya akan membahas fenomena Toxic Relationship, mari kita bahas

Apa itu toxic relationship?

Meskipun di masyarakat toxic relationship ini cenderung diasosiasikan dengan hubungan asmara, tetapi pada dasarnya istilah ini bersifat general.

hubungan toxic dapat digunakan untuk melabeli atau diasosiasikan dengan beragam hubungan seperti pertemanan, hubungan antar saudara, hubungan antara orang tua dengan anak dan masih banyak lagi. karena itu toxic relationship akan dilihat secara general atau umum dan tidak hanya berkaitan dengan hubungan asmara seperti pacaran maupun pernikahan.

Dr. Lillian Glass (dalam Ducharme, 2018) mendefinisikan toxic relationship sebagai hubungan apa pun yang terjadi antar individu yang mana individu yang terlibat memiliki kohesivitas yang rendah, mereka tidak saling mendukung, menghormati bahkan cenderung saling menjatuhkan dan berkompetisi dalam konteks yang kurang baik.

Individu yang terlibat dalam toxic relationship cenderung merasakan hubungan yang dijalin sebagai sebuah hubungan yang tidak menyenangkan, draining, bahkan hal-hal negatif terasa lebih banyak daripada hal positif, Gaba (2021) juga menjelaskan bahwa hubungan yang toxic ini cenderung didasari oleh konflik, kompetisi hingga keinginan untuk mengontrol.

Baca juga : Memahami Fenomena Stockholm Syndrome

Ciri-Ciri Toxic Relationship

Jika dilihat dari definisi atau penjelasan sekilas dari toxic relationship, sepertinya pengkategoriannya cukup mudah untuk melabeli suatu hubungan sebagai hubungan yang toxic.

Akan tetapi dalam proses mengategorikan atau melabeli suatu bentuk hubungan menjadi toxic atau tidak sehat tidaklah semudah yang selama ini dilakukan oleh masyarakat.

Praktisi maupun peneliti menyatakan bahwa terdapat beberapa karakteristik melabeli suatu hubungan sebagai hubungan yang toxic. Karakteristik tersebut dapat berupa hal yang mudah diketahui seperti adanya kekerasan maupun karakteristik yang bersifat subtle atau tidak kentara.

Karena tidak semua orang menyadari subtle characteristic, maka dalam artikel ini saya akan menjelaskan lima karakter yang tidak kentara untuk meningkatkan kesadaran pada individu.

1 Menuntut atau demanding

Karakteristik menuntut atau demanding ini dapat muncul dalam beragam bentuk disebabkan oleh berbagai hal yang berbeda antara satu individu dengan individu yang lain. Dalam sebuah artikel berjudul “Being Too Demanding” , dijelaskan bahwa perilaku demanding ini bisa secara langsung muncul sebagai perilaku nenuntut maupun bercampur dengan perilaku lain.

Perilaku menuntut ini jika muncul pada saat-saat tertentu mungkin tidak memberikan dampak negatif yang signifikan. ketika perilaku ini terus menerus muncul dampak negatif bagi hubungan yang dijalani tidak dapat dihindari. Hal ini dikarenakan perilaku demanding dalam bentuk apa pun dapat memunculkan kemarahan, kesedihan, kebingungan, perasaan tidak “nyambung” secara emosional bahkan berakibat fatal seperti putusnya hubungan yang ada.

2 Rasa tidak aman atau insecure

Perasaan insecure atau tidak aman yang dirasakan salah satu pihak atau keduanya, dapat menjadi salah satu tanda dari toxic relationship. Pada pihak yang cenderung mengontrol atau controller, rasa insecurity ini dapat berupa adanya rasa ingin dibutuhkan dan ingin mengontrol yang berlebihan.

Hal ini muncul karena individu tersebut merasa tidak memiliki kekuatan yang cukup sebagai seorang individu.

sebagai contoh, Malika seorang kakak yang selalu mengontrol dan selalu ingin menjadi orang yang dibutuhkan oleh adiknya Nanda. Perilaku Malika ini sebagai bentuk insecuritynya karena ia tahu bahwa ia tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk ditunjukkan sebagai seorang kakak, karne itu ia ingin Nanda ini selalu di bawah kontrol atau kendali Malika, sehingga Malika terlihat memiliki power lebih.

Jika salah satu pihak adalah controller dengan karakter yang insecure, sangat memungkinkan untuk pihak satunya cenderung bergantung dan insecure. Bagi pihak yang bergantung, rasa insecure ini muncul dalam bentuk perasaan bahwa ia merupakan individu yang lemah, tidak berharga bahkan merasakan membutuhkan perhatian dan kemesraan dari pasangan tetapi tidak berani mengatakannya.

Rasa Insecurity yang berlebihan dan beberapa perilaku terkait pada pihak yang mengontrol maupun pihak yang bergantung dapat menimbulkan dampak negatif bagi keduanya. Ketika menemukan kecenderungan seperti ini, ada baiknya untuk kedua belah pihak mengkomunikasikan dan berusaha memperbaikinya agar hubungan yang terjalin tidak mengalami pemburukan.

3 Kritik yang berlebihan

Kritik dengan porsi tertentu memanglah diperlukan dan dapat memberikan dampak positif bagi individu. Berbeda dengan kritik yang membangun, kritik yang dimaksudkan dpadalah kritik yang berulang atau berlebihan yang mana dapat memberikan dampak negatif dan fatal bagi pihak lain maupun hubungan yang dijalani.

Sebagai contoh, Deni dan candra sepasang sahabat karib dan Deni sering memberikan kritik terhadap candra, seperti “Gini aja kamu nggak bisa menentukan pilihan, ini kan gampang nggak perlu minta tolong aku”. Kalimat kritik tersebut sepertinya terdengar sepele, tetapi jika terjadi terus menerus hubungan pertemanan antara Deni dan candra dapat terancam.

Hal ini dikarenakan candra menjadi mempertanyakan apakah ia berharga dan worthy untuk berteman dengan deni?, candra juga dapat meragukan kemampuannya melakukan suatu hal, bahkan kritik yang berlebihan ini berubah menjadi emotional abuse.

4 Ketidakjujuran

ketidakjujuran juga bisa menjadi karakteristik dari hubungan yang tidak sehat. Dalam kehidupan sehari-hari, kebohongan-kebohongan kecil memang tidak dapat dihindari. Namun ketika kebohongan ini terus menerus dilakukan dan cenderung menjadi sebuah kebiasaan, dampak negatif dari perilaku ini tidak dapat dihindari lagi.

Perilaku berbohong ini dapat mempengaruhi kemampuan pelakunya untuk menilai emosi orang lain yang mana menjadi tidak terlalu akurat. Ketidakjujuran juga dapat mengurangi atau bahkan menghilangkan kepercayaan dari pihak yang merasa dibohongi.

Sebagai contoh, ketika Nanda membohongi Malika, kemampuan Nanda untuk menilai emosi yang ditunjukkan oleh kakaknya ini menjadi kurang akurat sehingga respons yang diberikan untuk sang kakak juga cenderung meleset. Tidak hanya itu, kepercayaan Malika terhadap Nanda juga akan berkurang setelah insiden Nanda membohongi Malika.

Bisa dibayangkan ketika seseorang tidak jujur terus menerus, maka peluang kesalahpahaman akan meningkat dan kepercayaan yang ada di antara keduanya juga berkurang yang mana sangat memungkinkan untuk menciptakan perpecahan pada hubungan tersebut.

5 Cemburu

Rasa cemburu atau jealous bisa saja menjadi salah satu aspek yang penting dalam sebuah hubungan, terutama hubungan asmara. Rasa cemburu yang berlebihan ini dapat memberikan dampak negatif dan dapat menjadi salah satu tanda dari hubungan yang tidak sehat.

Stritof (2021) menjelaskan Rasa cemburu yang berlebihan ini dapat muncul karena beberapa hal, individu tersebut merasa kewalahan dengan insecurity maupun emosi yang ia rasakan dan memunculkannya dalam bentuk rasa cemburu dan upaya mengontrol pasangannya.

Rasa cemburu seperti ini yang perlu untuk mendapatkan perhatian lebih terutama jika terjadi dalam rentang waktu yang lama, karena dapat berakibat fatal bagi hubungan yang ada.

Demikian lima karakteristik hubungan yang tidak sehat atau toxic relationship yang dapat ditemukan di berbagai bentuk hubungan.

Kelima karakteristik yang cenderung bersifat subtle dan tidak langsung dirasakan ini dapat muncul secara keseluruhan atau juga hanya sebagian dengan beragam hal lain yang menyertai. Penting juga untuk dipahami bahwa kelima karakteristik ini bukanlah sebuah urutan atau proses dari tanda-tanda hubungan yang tidak sehat tersebut.

Cara Mengatasi Toxic Relationship

Setelah memahami definisi dan sebagian karakteristik dari hubungan yang tidak sehat, mungkin kamu merasa dirinya atau orang yang disayangi berada di dalam tipe hubungan tersebut.

Adanya kesadaran akan kondisi sesungguhnya dari istilah toxic relationship ini juga dapat memunculkan beragam pertanyaan terkait langkah atau cara yang bisa dilakukan jika diri sendiri maupun orang terdekat mengalami kondisi tersebut.

Berikut terdapat tiga cara yang dapat dilakukan ketika berada pada kondisi hubungan yang tidak sehat atau toxic relationship.

1 Sadari

Langkah pertama dan menjadi kunci yang perlu dilakukan ketika kita merasakan beberapa karakteristik tersebut dalam hubungan yang kita jalani tidak sehat atau toxic, baik hubungan dengan rekan kerja, keluarga, pasangan dan sebagainya dengan menyadari kalau kita memang berada pada hubungan yang tidak sehat.

Proses untuk sadar ini bukan proses yang cepat karena itu, proses menyadari ini memanglah tidak mudah, salah satunya dikarenakan adanya penyangkalan bahwa hubungan yang dijalani merupakan hubungan yang tidak sehat (Carter, 2011).

Bagi pihak yang dirugikan, menyadari diri kita berada dalam hubungan yang tidak sehat ini penting untuk menentukan jalan keluar yang tepat. Selain bagi pihak yang dirugikan atau korban, “sadari” ini juga penting bagi pihak yang melakukan perilaku atau sikap tertentu yang menyebabkan hubungan tersebut tidak sehat.

Dengan menyadari bahwa dirinya akar dari beberapa kondisi yang ada, diharapkan proses untuk memperbaiki diri dan hubungan dapat dilakukan dengan maksimal. Dengan demikian, hubungan tersebut dapat diupayakan untuk diselamatkan.

2 Ekspresikan

Setelah menyadari kondisi yang terjadi, maka tidak langkah selanjutnya yang perlu dilakukan oleh pihak yang mengalami dampak negatif dari toxic relationship dengan mengutarakan maupun mengekspresikan perasaan yang dialami terhadap pihak yang melakukan, baik pasangan, saudara, rekan kerja dan lain sebagainya (Fuller.

Mengutarakan perasaan kepada yang bersangkutan terkadang dapat membahayakan korban, terlebih jika pelaku cenderung melakukan kekerasan. Fuller menyarankan untuk menyampaikan perasaan yang dirasakan secara tertulis dengan tangan maupun digital seperti email maupun pesan singkat sehingga lebih aman untuk korban serta memberikan waktu bagi pelaku memikirkan hal yang disampaikan melalui tulisan tersebut..

3 Beritahu orang lain

Ketika memilih untuk keluar dari hubungan yang tidak sehat, terlebih hubungan yang penuh dengan kekerasan, penting bagi sang individu tersebut untuk mengabari orang lain terutama mereka yang tahu kondisi yang dihadapi. hali ini menjadi penting karena kita tidak tahu kemungkinan yang dapat terjadi dan di luar ekspektasi atau rencana awal.

Dengan memberitahu orang lain kita memiliki pihak yang bisa membantu ketika menghadapi kondisi tidak terduga. (Feuerman, 2021) juga menambahkan ketika kita menghadapi kondisi berbahaya, jangan ragu untuk menghubungi instansi berwajib kepolisian.

4 Cari Bantuan Profesional

Bantuan pada tahap ini lebih condong pada bantuan kesehatan baik psikologi maupun fisik, baik sebelum atau setelah keluar dari toxic relationship. Langkah mencari bantuan ini penting untuk dilakukan karena dampak dari hubungan yang tidak sehat ini dapat berakibat pada fisik atau psikis korban baik disadari maupun tidak.

Selain dampak bagi korban, bantuan profesional membantu individu tersebut untuk memperteguh keyakinannya untuk keluar dari kondisi tersebut dan tidak menyesali keputusan yang dibuat hingga kembali ke dalam toxic relationship tersebut (Feuerman, 2021; Fuller, 2017).

Pada kondisi tertentu, bantuan profesional dari pengacara juga dibutuhkan jika hubungannya berupa pernikahan maupun hubungan lain yang berkaitan dengan hukum. (Feuerman, 2021).

5 Stop Komunikasi

Menghentikan komunikasi dengan pasangan atau pihak yang menimbulkan toxic relationship juga harus dilakukan. karenakan pelaku biasanya cukup licik dan menggunakan berbagai cara untuk membawa korbannya kembali ke dalam hubungan yang sehat tersebut (Feuerman, 2021).

Namun apabila komunikasi memang diperlukan, seperti pengasuhan anak (Feuerman, 2021), hubungan kerja maupun keluarga, fokuskan komunikasi pada hal yang memang diperlukan atau bersifat mendesak atau penting.

Demikian penjelasan istilah toxic relationship yang selama ini digunakan oleh masyarakat.Selain itu, dengan adanya peningkatan pemahaman juga diharapkan dapat membuat sebagian masyarakat tidak dengan mudah melabeli atau mengategorisasikan kondisi hubungan tertentu sebagai hubungan yang toxic.

Apabila ada yang mengalami atau berada pada hubungan toxic dan memerlukan bantuan, maka jangan ragu untuk mencari bantuan profesional sesuai dengan kebutuhan.

Semoga artikel ini bisa menambah pengetahuan dan wawasan kamu

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *