Apa itu Moralitas

Apa itu moralitas, Moralitas merupakan perilaku dan suatu kepercayaan yang dianggap dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya. Moralitas ini mengacu pada seperangkat standar yang memungkinkan orang untuk hidup secara kooperatif dalam suatu kelompok.

Itulah yang ditentukan oleh masyarakat sebagai apa yang “benar” dan “dapat diterima”.

Terkadang, bertindak secara moral berarti seorang individu harus mengorbankan kepentingan jangka pendek diri mereka sendiri untuk memberi manfaat bagi masyarakat. jika Seorang individu melanggar standar ini dia akan dapat dianggap tidak bermoral.

Dalam artikel kali ini saya akan membahas definisi dari moralitas, mari kita simak.

Perbedaan Istilah Immoral, Nonmoral, dan Amoral

Untuk memudahkan dan membedakan antara istilah-istilah terkait, seperti immoral, nonmoral, dan amoral. Masing – masing memiliki arti yang berbeda :

  • Tidak bermoral (immoral) : Menggambarkan seseorang yang dengan sengaja melakukan tindakan ofensif, meskipun mereka tahu perbedaan antara apa yang benar dan salah.
  • Nonmoral : Menggambarkan situasi di mana moralitas tidak menjadi perhatian.
  • Amoral : Menggambarkan seseorang yang mengakui perbedaan antara benar dan salah, tetapi tidak peduli dengan moralitas.

Baca Juga : Tips Menjadi Manusia Yang Lebih Asertif (Tegas)

Bagaimana Moral Ditetapkan

Moralitas pada dasarnya bersifat tidak tetap. Apa yang dianggap dapat diterima oleh suatu budaya seseorang mungkin tidak dapat diterima orang di budaya lain.

Foto by pexels

Dari Wilayah geografis, agama, keluarga, dan pengalaman hidup semuanya memengaruhi moral.

Akan tetapi Para ahli terkait tidak sepakat tentang bagaimana moral dikembangkan. Namun, ada beberapa teori yang mendapat perhatian selama bertahun-tahun:

  • Moralitas dan superego : Sigmund Freud menjelaskan bahwa perkembangan moral terjadi sebagai kemampuan seseorang untuk mengesampingkan kebutuhan egois mereka dengan digantikan oleh nilai-nilai agen sosialisasi penting (seperti orang tua seseorang).
  • Teori perkembangan moral Piaget : Jean Piaget berfokus pada perspektif perkembangan sosial-kognitif dan sosial – emosional. Piaget berteori bahwa perkembangan moral terungkap dari waktu ke waktu, dalam tahapan tertentu ketika anak-anak belajar mengadopsi perilaku moral tertentu untuk kepentingan mereka sendiri daripada hanya mematuhi kode moral karena mereka tidak ingin mendapatkan suatu masalah.
  • Teori perilaku BF Skinner : BF Skinner berfokus pada kekuatan kekuatan eksternal yang membentuk perkembangan seorang individu.
    • Sebagai contoh, seorang anak yang menerima pujian karena kebaikannya mungkin memperlakukan seseorang dengan kebaikan lagi karena keinginan untuk menerima lebih banyak perhatian positif di masa depan.
  • Penalaran moral Kohlberg : Lawrence Kohlberg mengusulkan enam tahap perkembangan moral yang melampaui teori Piaget. Melalui serangkaian pertanyaan, Kohlberg mengusulkan agar tahap penalaran orang dewasa dapat diidentifikasi.

Dasar Moralitas

Ada berbagai teori tentang bagaimana moral dikembangkan, sebagian besar dari teori mengakui faktor eksternal (orang tua, masyarakat, budata, dll) yang berkontribusi terhadap perkembangan moral seorang anak. Yang dimaksudkan moral ini untuk memberi manfaat bagi kelompok yang telah menciptakannya.

Moral yang Melampaui Waktu dan Budaya

Mayoritas moral tidak diperbaiki. Mereka biasanya bergeser dan berubah seiring dengan berjalannya waktu.

FOto by pexels

Dari Gagasan tentang apakah perilaku tertentu bermoral atau tidak seperti melakukan hubungan seks pranikah, memasuki hubungan sesama jenis (homo seks), dan menggunakan ganja. semuanya berubah seiring dengan berjalannya waktu.

Sementara sebagian besar Masyarakat pernah menganggap perilaku ini sebagai “salah”, sebagian besar populasi sekarang menganggap aktivitas ini mungkin “dapat diterima”.

Di berbagai daerah, budaya, dan agama, menggunakan kontrasepsi dianggap tidak bermoral. Di bagian lain dunia, beberapa orang menganggap kontrasepsi sebagai tindakan bermoral, karena mengurangi kehamilan yang tidak direncanakan, mengelola populasi, dan mengurangi risiko PMS (post menstrusi syndrom).

Akan tetapi, beberapa moral tampaknya melampaui seluruh dunia dan lintas waktu. Para peneliti telah menemukan setidaknya ada tujuh moral yang tampaknya bersifat universal (menyeluruh):

  1. Berani.
  2. Adil.
  3. Tunduk atau taat pada aturan (otoritas)
  4. Membantu orang yang membutuhkan
  5. Cinta keluarga
  6. Balas budi
  7. Menghormati hak dan milik orang lain

Contoh Moralitas

Berikut ini contoh moralitas umum yang mungkin telah diajarkan kepada seseorang saat tumbuh dewasa, dan bahkan mungkin diturunkan ke generasi yang lebih muda :

  • Bersikap sopan.
  • Memiliki empati.
  • Jangan mencuri.
  • Katakan yang sebenarnya (jujur).
  • Perlakukan orang lain sebagaimana diri sendiri ingin diperlakukan.

Orang mungkin mematuhi prinsip – prinsip ini dengan :

  • Menjadi warga negara yang bermartabat.
  • Melakukan pekerjaan sukarela.
  • Menyumbangkan uang untuk amal.
  • Memaafkan seseorang.
  • Tidak bergosip tentang orang lain.
  • Menawarkan bantuan mereka kepada orang lain.

Untuk memahami moralitas yang seseorang miliki saat dibesarkan, pikirkan tentang apa yang orang tua, komunitas, dan/atau pemimpin agama seseorang katakan kepada dirinya bahwa dia “harus” melakukannya.

Perbedaan Moral dengan Etika

Beberapa ahli tidak membedakan antara moral atau etika. Keduanya berkaitan dengan yang “benar dan salah”. Akan tetapi, sebagian orang percaya bahwa moralitas bersifat pribadi sedangkan etika mengacu pada standar dari suatu kelompok atau komunitas.

Sebagai Contoh, komunitas seseorang mungkin tidak menganggap seks pranikah sebagai masalah. Tetapi pada tingkat pribadi, seseorang mungkin menganggapnya tidak bermoral. Dengan definisi ini, moralitas seseorang akan bertentangan dengan etika komunitas atau kelompok dirinya.

Moral dan Hukum

Baik hukum maupun moral dimaksudkan untuk mengatur suatu perilaku dalam suatu komunitas agar orang dapat hidup dalam harmoni. Keduanya memiliki dasar yang kuat dalam konsep bahwa setiap orang harus memiliki otonomi dan menunjukkan rasahormat diantara satu sama lain.

Pemikiran hukum ini menafsirkan hubungan antara hukum dan moralitas secara berbeda. Beberapa berpendapat bahwa hukum dan moralitas harus independen. Ini berarti hukum tidak dapat diabaikan hanya karena secara moral tidak dapat dipertahankan.

Mereka Percaya bahwa hukum dan moralitas saling bergantung atau saling melengkapi. Para pemikir ini percaya bahwa hukum yang mengklaim mengatur ekspektasi perilaku harus selaras dengan norma moral yang ada.

karena itu, semua hukum harus menjamin kesejahteraan individu dan untuk kebaikan masyarakat. Mungkin ada kalanya beberapa orang berpendapat bahwa melanggar hukum adalah hal “moral” yang harus dilakukan.

Contohnya, Mencuri makanan untuk memberi makan orang yang kelaparan, mungkin ilegal tetapi juga dianggap sebagai “hal yang benar” untuk dilakukan jika itu satu – satunya cara untuk mencegah seseorang dari kematian.

Kesimpulan

Kamu bisa Luangkan waktu untuk memikirkan tentang moral yang memandu keputusan tentang persahabatan, uang, pendidikan, dan keluarga. Dengan Memahami apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri dapat membantu seseorang memahami diri dengan lebih baik dan membuat pengambilan keputusan menjadi lebih mudah.

Semoga artikel ini bisa menambah pengetahuan dan wawasan kamu.

Share your love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *